Bipolar merupakan kondisi mental yang tidak beraturan, terkadang sedih, senang, bahkan marah tiba-tiba. Perasaan tersebut tentu saja tidak terjadi dalam sekian jam, tapi bisa terjadi dalam hitungan detik atau menit saja. Perubahan mood yang tergolong sangat ekstrem ini sebenarnya termasuk penyakit yang cukup berbahaya.
Ketika pasien sedang merasa sedih, ia akan menjadi semakin tertekan, tiba-tiba hilang harapan, bahkan sampai tidak mau melakukan aktivitas sehari-harinya. Berbeda ketika pasien sedang senang. Ia akan menjadi semakin bersemangat dan mau melakukan kegiatan apapun.
Kalau perubahan mood itu terus menerus terjadi, perasaan orang yang sedang mengalaminya tentu akan menjadi semakin buruk, bahkan bisa memicu bunuh diri. Karena itu, mereka membutuhkan bantuan dari berbagai pihak agar bisa mengurangi tingkat stress mereka.
Salah satu pihak yang sering kali membantu pasien dengan gangguan bipolar yaitu caregiver. Caregiver merupakan orang yang memberikan dukungan dan bantuan terhadap pasien yang membutuhkan pertolongan dalam menyelesaikan kebutuhannya sehari-hari. Dalam hal itu tidak terkecuali untuk penderita gangguan bipolar.
Banyak yang menganggap penyakit bipolar sangat menakutkan dan tidak bisa disembuhkan. Tapi, kalau ditangani dengan sabar, penyakit itu akan sembuh secara perlahan. Di situlah tugas caregiver dalam merawat penderita bipolar.
Baca juga : Kiat Tepat Dalam Memilih Perawat untuk Lansia
Tapi, untuk menjadi seorang caregiver yang menangani masalah bipolar, tentulah tidak gampang. Mereka harus mengeluarkan tenaga ekstra dan tidak harus sangat sabar dalam menanganinya. Menurut seorang ahli, Putri Nurfadlilah Salma (22) yang juga menjadi Wakil Ketua Komunitas Bipolar Care Indonesia, mengatakan kalau peran caregiver sering kali berpengaruh pada kondisi perasaan seorang bipolar.
Menjadi seorang caregiver tentu harus meluruskan perasaan dan pemikiran negatif yang dilakukan penderita bipolar menjadi positif, sehingga kondisinya tidak semakin stress. Ada beberapa hal yang harus kamu tahu dulu dalam menangani masalah bipolar. Berikut penjelasannya.
Seorang caregiver memang sangat tidak gampang merawat pasien bipolar. Terkadang pasien bercerita mengenai kehidupannya sendiri atau orang lain ke caregiver-nya. Tidak jarang apa yang mereka ceritakan bersifat negatif. Posisi kamu sebagai caregiver haruslah mendengarkan mereka baik-baik dan tidak asal menghakimi cerita mereka.
Kamu yang mau memberikan nasehat, haruslah sangat berhati-hati dalam mengolah kata-kata yang akan dipakai, karena pasien bipolar sangatlah sensitif ketika mendengarkan kata-kata apa yang menurut mereka tidak suka atau tidak cocok.
Untuk mengetahuinya, kamu perlu tahu dulu bagaimana cara bicara dan sifat pasien yang kamu tangani. Semakin kamu mengenalnya, tentu penggunaan kata-kata akan lebih tepat.
Pasien bipolar sering kali mood-nya seperti roller coaster, tiba-tiba senang, tiba-tiba sedih, bahkan tiba-tiba marah sendiri. Kondisi tersebut tentu membuat orang lain merasa tidak nyaman dengan perasaannya yang tidak terduga.
Peran caregiver di sini haruslah sangat sabar dan tidak boleh ikut dengan kondisi mood sang pasiennya. Memang sangat melelahkan, tapi caregiver perlu kesabaran penuh dalam menanganinya. Mereka harus bisa memberikan alternatif kegiatan lain agar mood pasien bipolar tidak terus menerus dalam kondisi manic atau depresi.
Tidak jarang pasien bipolar merasa bingung dengan apa yang harus mereka lakukan dan tujuan hidupnya. Sering kali mereka menghasilkan ide-ide yang bagus tapi tidak tahu bagaimana mereka mengaplikasikannya. Mereka hanya diam saja dan ujung-ujungnya tidak mau berbuat apa-apa lagi.
Peran caregiver sangatlah penting dalam memberikan dorongan motivasi yang positif untuk mereka. Ketika pasien bingung apa yang harus mereka lakukan, caregiver perlu membantu mereka dalam menjalankan kegiatan yang positif. Begitu juga ketika pasien mengeluarkan berbagai macam ide. Caregiver juga harus membantu mereka dalam menjalankan ide-idenya agar bisa direalisasikan dengan baik.
Dengan bantuan motivasi yang positif, pasien akan semakin terdorong dengan kegiatan dan pikiran positif. Dengan begitu, mereka terhindar dari hal-hal yang negatif. Kondisi yang lebih buruk yaitu bunuh diri.
Penderita bipolar terkadang merasa tidak sering diperhatikan, sehingga mereka mencari cara mereka sendiri agar bisa diperhatikan. Ketika mood-nya sedang tidak baik, mereka hanya menutup mata dan telinga dengan apa yang diberikan oleh caregiver-nya.
Tidak jarang juga penderita bipolar mencari perhatian dengan melakukan tindakan yang tidak terduga. Situasi tersebut tentu akan sangat merepotkan caregiver karena mood-nya sedang tidak terkendali. Jadi, usahakan kamu memberikan perhatian yang lebih kepada mereka.
Setidaknya berikan perhatian hal-hal yang kecil agar mereka tetap merasa diperhatikan. Menjadi teman curhat juga menjadi bagian yang bisa kamu lakukan agar mereka bisa tetap senang dan meminimalisir dari pemikiran dan tindakan yang negatif.
Mengurus pasien caregiver meski hanya seorang saja tentu sangat tidak gampang, apalagi ketika penyakitnya sudah tidak akut yang membuat kondisi mood-nya sering berantakan. Ketika terus menerus mengalami kondisi yang naik turun, tentu pemikiran caregiver untuk berhenti dan merasa tidak kuat lagi menjadi sering muncul.
Baca juga : Mengenali Tanda Orang Tua Yang Memasuki Masa Lansia
Ketika kamu sedang dalam kondisi tersebut, berdoalah pada Tuhan untuk diberi kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi pasien bipolar. Jangan meninggalkan mereka begitu saja karena mereka membutuhkan orang lain dalam proses penyembuhan penyakit mereka. Dan juga jangan pernah berpikir mereka bisa mencari caregiver yang lain karena tugas menjadi seorang caregiver dilakukan demi kesembuhan pasien.
Sebenarnya dibalik mood-nya yang sering naik turun itu, penderita bipolar sangat membutuhkan kehadiran seorang teman yang mengerti keadaan mereka. Secara sadar atau tidak, kamu pasti akan merasakan adanya perubahan terhadap mereka ke arah yang lebih baik.
Jangan salah sangka kalau penderita bipolar tidak bisa peka, justru mereka lebih peka terhadap orang-orang di sekitarnya. Hanya saja, cara penyampaian perasaan mereka berbeda dengan orang lain pada umumnya karena kurang mampu mengekspresikan perasaan mereka.