Hasil studi dari National Heart, Lung, dan Blood Insitute mencatat bahwa sebanyak 9 dari 10 orang paruh baya berpotensi mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi di usia senja nanti. Sebelum lanjut ke topik, mari kita bahas sedikit mengenai hipertensi sendiri.
Hipertensi adalah kondisi di saat tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 milimeter merkuri (mmHg). 140 adalah angka sistolik, yakni ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Sedangkan 90 mmHg merupakan angka disastolik, yakni ketika jantung dalam kondisi rileks.
Berdasarkan catatan WHO (badan kesehatan dunia), pada tahun 2025 nanti sebanyak 29% orang dewasa diprediksi akan menderita penyakit hipertensi.
Di Indonesia sendiri, sebuah riset dari Kemenkes RI tahun 2013 menyebutkan bahwa 25,8% penduduk Indonesia mengalami hipertensi. Jadi, baik di Indonesia maupun di dunia, hipertensi adalah penyakit yang banyak diderita oleh kebanyakan orang.
Hipertensi sering disebut sebagai “Pembunuh diam-diam” karena tidak ada gejala jangka panjang, melainkan seperti penyakit jantung yang bisa menyerang secara tiba-tiba dan mengancam nyawa.
Tekanan darah normal adalah sekitar 120/80 mmHg. Namun demikian bukan berarti anda bisa tenang dengan angka tersebut. Jika sistolik menunjuk pada angka 120-139 dan disastolik ada di angka 80-89 maka anda mengalami apa yang disebut “prehipertensi” yakni gejala sebelum terjadinya hipertensi.
Baca juga : Menjadi Seorang Caregiver Bipolar Tidak Gampang, Kenali Dulu Apa yang Harus Dilakukan
Banyak penyebab tekanan darah bisa berubah. Dari mulai usia, aktivitas dan makanan sehari-hari hingga waktu pengukurannya. Untuk orang dewasa sendiri, tekanan darah normal mereka ada di kisaran 120/80 mmHg.
Apalagi tekanan darah pada orang-orang lansia, dalam satu waktu mereka bisa mengalami perubahan tekanan darah rendah yang tiba-tiba melonjak tinggi. Fenomena ini sampai sekarang masih belum diketahui penyebabnya.
Bagi lansia, menjaga tekanan darah agar tetap stabil sangatlah penting. Selain berpeluang mengalami stroke mereka juga bisa terkena penyakit seperti penyakit jantung dan kerusakan ginjal.
Hipertensi yang terjadi secara mendadak sangat berbahaya bagi lansia. Mirip dengan gejala vertigo, mereka akan merasakan seperti mau pingsan, pusing pada bagian kepala belakang dan tubuh goyah hal-hal tersebut bisa menyebabkan mereka jatuh mendadak.
Tulang orang lansia tentu sudah mengalami dan pengeroposan sehingga jika sampai terjatuh berpotensi mengalami cidera tulang yang serius.
Tapi tenang saja, menstabilkan tekanan darah bukanlah hal yang sulit. Anda cukup melakukan hal sederhana, yakni dimulai dari perubahan gaya hidup. Dan ini juga bukan hal yang mustahil dilakukan bagi para lansia.
Berikut 3 Tips Sederhana Mengendalikan Hipertensi
Pertama adalah olahraga teratur. Cukup sederhana dan dapat dilakukan di rumah. Dengan olahraga teratur, jantung anda akan lebih bugar tanpa dipaksa bekerja keras. Dengan demikian, detak jantung anda akan lebih teratur sehingga berdampak pada elastisitas pembuluh darah yang terjaga untuk menstabilkan tekanan darah.
Olahraga teratur juga bisa mengurangi konsumsi obat. Dengan satu sesi olahraga saja anda bisa menurunkan tekanan sistolik hingga 9 mmHg yang sama baiknya dengan mengonsumsi obat hipertensi.
Untuk menu olahraga, anda cukup bersepeda atau berjalan. Saran kami lakukan di waktu subuh karena udara masih segar dan belum banyak polusi dari kendaraan. Giatkan olahraga setidaknya 150 menit dalam sepekan atau 3-5 hari dalam seminggu. Anda juga bisa melakukan variasi pembagian waktu.
Memperhatikan asupan makanan sejatinya bisa dilakukan sejak dini. Namun tidak mengapa bagi anda yang sudah lansia, mulailah dari hal sederhana seperti mengurangi makanan berlemak dan tinggi garam. Giatkan untuk menambahkan berbagai macam sayur, buah dan biji-bijian ke dalam daftar menu anda sehari-hari kemudian padukan dengan program diet DASH, yakni diet khusus bagi penderita hipertensi.
DASH sendiri adalah kepanjangan dari Dietary Approaches to Stop Hypertension atau diet dengan pendekatan untuk mencegah hipertensi. Diet ini berfokus pada pengurangan konsumsi garam sehari-hari dan memberi asupan yang kaya akan gizi yang mana hal ini akan membantu mengurangi tekanan darah. Contoh asupan gizinya adalah seperti mineral, kalsium dan magnesium.
Dengan menekuni program diet ini, anda dapat mengurangi tekanan hanya dalam kurun waktu dua minggu. Semakin lama anda menerapkan diet ini, maka berpotensi mengurangi tekanan darah sistolik hingga 14 mmHg. Hal ini tentu saja berdampak positif bagi kesehatan anda.
Baca juga : 5 Hal Berikut Ini Penting Bagi Anda yang Sedang Merawat Lansia
DASH juga memiliki dua jenis diet, yakni diet standar dan diet pengurangan garam lebih. Perbedaannya hanya ada di jumlah konsumsi garam saja, jika diet standar batas garam yang dikonsumsi dalam sehari adalah 2,3 gram sedangkan diet pengurangan garam lebih sekitar 1,5 gram.
Untuk menu dan porsinya, anda bisa mulai dengan sayur-sayuran seperti kentang, tomat, brokoli dan wortel sebanyak 5 porsi perhari. Setiap porsi cukup 1/2 cup.
Atau anda lebih cocok dengan buah-buahan. jumlah penyajiannya juga sama dengan sayur tadi, semua jenis buah-buahan boleh dikonsumsi kecuali durian. Sebagai vabriasi, anda bisa mengonsumsinya dengan dijus.
Dalam beberapa kasus tertentu, ada yang penanganan hipertensi sudah tidak bisa hanya dengan olahraga teratur dan akhirnya dilakukan dengan pemberian obat. Kasus ini banyak ditemui dari kalangan lansia.
Hal ini bukan berarti anda bisa tenang hanya dengan obat. Anda harus pintar-pintar dalam membekali diri apabila terjadi efek samping dari obat-obatan tersebut, salah satu caranya adalah dengan rajin melakukan check up ke dokter.
Sekian artikel kami mengenai Tips Sederhana Mengendalikan Hipertensi. Semoga bisa menjadi referensi bagi anda untuk memulai gaya hidup yang lebih sehat.