Manusia mengalami pertumbuhan dan perubahan fisik setiap waktu. Semakin lama, tubuh ikut menua sesuai waktu yang berjalan. Pada masa-masa remaja hingga dewasa mungkin kita merasakan jaya-jayanya kondisi fisik kita. Namun, ketika sudah menginjak masa tua, fungsi dari semua organ tubuh pun mengalami penurunan. Perubahan fisik pun perlahan tapi pasti mulai terjadi, dari yang hanya sekadar keriput samar sampai kulit yang benar-benar terlihat layu. Mata, telinga, tulang, dan lain sebagainya mengalami penurunan kualitas. Hal tersebut pun berpengaruh pada kebutuhan gizi untuk tubuh.
Terjadinya Perubahan Fisiologis Lansia
Perubahan yang paling jelas pada lansia adalah keadaan fisiknya. Hal tersebut ternyata sangat memengaruhi perubahan pada kebutuhan gizi para lansia. Akan tetapi, kita tidak bisa menyamaratakan perubahan gizi pada setiap lansia. Setiap orang memiliki perubahan massa tubuh yang berbeda, kecepatan perubahan metabolisme basal tersebut tentu dipengaruhi oleh banyak kondisi, termasuk dari kegiatan sehari-hari yang dilakukan selama ini hingga faktor genetik. Oleh sebab itu, kebutuhan gizinya pun tidak sama meskipun saat itu mereka ada di usia yang sama. Terlebih jika saat itu terjadi penurunan cukup tinggi pada organ-organ tubuh tertentu.
Baca juga : Ketahui 6 Hal Berikut Ini Saat Memilih Jasa Caregiver
Misalnya saja, kondisi pencernaan Anda tidak sebagus dulu dalam mencerna lemak, maka sebaiknya mengurangi konsumsi lemak untuk mencegah risiko terkena penyakit-penyakit tertentu. Biasanya, masalah pencernaan yang sering terjadi pada lansia adalah konstipasi atau gastritis. Hal tersebut juga sebaiknya menjadi perhatian khusus supaya tahu pemenuhan gizinya seperti apa.
Fungsi Indra Pada Lansia yang Berubah Memengaruhi Kebutuhan Makanan
Meskipun perubahan fisik adalah yang paling kentara, tetapi pada lansia pun mengalami perubahan indra serta persepsi. Perubahan indra ini berkaitan dengan kepekaan terhadap aroma, rasa, pendengaran, penglihatan, dan lain-lain yang berhubungan dengan panca indra. Hal ini juga memengaruhi persepsi yang mereka miliki. Misalnya, kemampuan indra pengecap yang tidak lagi seperti dulu membuat rasa yang dicecap lidah akan berbeda dari yang dirasakan orang muda. Contoh mudahnya, ketika orang lain mengatakan bahwa makanan tersebut asin, belum tentu seorang lansia merasakan hal yang sama. bisa jadi malah rasa pahit dan hambar yang dirasa. Inilah mengapa selera makanan mereka pun berubah, dan kebutuhan gizinya pun ikut berubah.
Berikut Ini Adalah Contoh Perubahan Kebutuhan Gizi Lansia
Untuk lebih mudahnya, berikut ini adalah contoh kebutuhan gizi pada lansia. Misalnya, Anda adalah perempuan berusia 50 sampai 64 tahun yang membutuhkan energy 1900kkal per harinya. Sedangkan sewaktu Anda berusia 19 sampai 29 tahun, kebutuhan energy Anda sekitar 2200kkal per hari. Artinya, kebutuhan energy tersebut berkurang sampai 300kkal per hari, sehingga asupan makanannya pun sudah tidak sama lagi.
Tidak hanya itu, kebutuhan karbohidrat dan lemak pada tubuh juga mengalami perubahan. Misalnya, di usia dewasa Anda membutuhkan lemak hingga 60-75 gram setiap harinya. Kemudian saat tua, Anda hanya butuh 43 sampai 53 gram. Ada perubahan yang signifikan terjadi, sehingga konsumsi lemak dan karbohidrat sebaiknya dikurangi.
Hal ini karena kebanyakan, zat-zat gizi makronutrien seperti karbohidrat, protein dan lemak untuk lansia selalu berkurang seiring waktu, sehingga makanan-makanan yang banyak mengandung zat tersebut perlu dikurangi kadarnya. Berbeda halnya dengan zat-zat mikronutrien seperti vitamin dan mineral, biasanya tidak begitu banyak berubah. Namun, untuk konsumsi makanan dengan natrium, memang sebaiknya dikurangi perlahan.
Pedoman Gizi yang Seimbang untuk Lansia
Untuk menjaga kekuatan tulang, kalsium sangat diperlukan. Apalagi, tulang pada lansia mulai berkurang kepadatannya, jika dibiarkan akan berisiko pada pengeroposan tulang dan juga gigi. Inilah mengapa lansia perlu sekali memakan makanan tinggi kalsium seperti ikan dan susu. Jangan lupa pula konsumsi makanan bervitamin D. Namun, konsumsi ini juga sebaiknya dikonsultasikan ke dokter untuk mendapat manfaat yang maksimal.
Konstipasi atau sembelit biasanya sering sekali dialami para lanjut usia. Hal tersebut biasanya karena pola makan yang menjadi agak berbeda. Lansia cenderung memilih makanan yang mudah ditelan, tetapi buah dan sayur cukup keras untuk dikonsumsi. Inilah mengapa harus ada alternative untuk memenuhi serat tubuh. Misalnya dengan membuat jus atau mengukus hingga lembut. Namun, selain sayur dan buah, lansia juga boleh mengonsumsi produk-produk whole grain. Dengan begitu, masalah sembelit akan mudah teratasi, dan kadar lemah maupun gula darah lebih terkontrol dengan adanya serat.
Baca juga : Keunggulan dan Kelemahan Menggunakan Jasa Perawat Home Care
Diakibatkan oleh menurunnya sistem hidrasi, kebanyakan lansia akan tidak peka terhadap kekurangan atau kelebihan cairan tubuh. Hal ini mengakibatkan beberapa orang tidak suka minum, lalu mengalami dehidrasi. Padahal, dehidrasi ini dapat memicu kondisi otak seperti mudah lupa, bisa juga terkena dimensia. Bahkan, karena kekurangan cairan, bisa jadi akan memicu hipertensi. Kelebihan cairan juga akan mempanguruhi jantung dan ginjal. Konsumsi air yang disarankan untuk lansia adalah sekitar 6 gelas per hari.
Meskipun kondisi tubuh sudah tidak sebaik dulu, tetapi kegiatan fisik juga tidak boleh ditinggalkan. Hal tersebut akan memengaruhi kelenturan otot. Namun, aktivitas yang dilakukan juga tidak boleh berlebihan. Anda bisa mencoba dengan senam, jalan-jalan, yoga, berkebun, dan lain-lain. Selain menjaga otot, aktivitas fisik juga dapat menjaga kinerja jantung dan kebugaran.
Gula, garam, dan lemak memang sangat harus dikontrol konsumsinya. Sebab, zat-zat tersebut sangat cepat berpengaruh pada tubuh jika berlebihan. Beberapa penyakit yang kerap diderita jika kelebihan gula, garam dan lemak adalah stroke, hipertensi, diabetes, penyakit jantung, hiperkolesterol, dan lain sebagainya.